Tag Archives: budaya

Budaya Dan Malu

Budaya Dan Malu

g1

Hari ini saya menghabiskan sore sambil menunggu waktu berbuka dengan menyusuri beberapa ruas jalan yang biasanya padat lalu lintas. Jalanan sepi, beberapa mungkin memilih untuk mudik sebab besok kami akan merayakan Idul Adha. Lengang dan teduh dengan suasana yang tepat hingga membuat saya sekali lagi membuka memori indah tentang kota ini, Makassar. Kota dimana saya menghabiskan kebersamaan bersama orang-orang terkasih dengan cinta, suka atau pun duka. Kota yang sedikit banyak membesarkan saya menjadi pribadi yang sedikit emosional dengan belenggu pintu cinta… Hallah!, itu serial tivi tahun berapa yah?! XD. Bukan-bukan, tapi kota yang membuat saya belajar banyak hal.

Juga kota yang membuat saya memahami bahwa, kami adalah rakyat yang senantiasa disuguhi baliho-baliho keren pemimpin idola masa kini. Hingga saya menjadi sedikit pusing ketika teringat, beberapa hari belakangan ini, media cukup sibuk memberitakan sebuah kejadian yang tidak pernah saya pahami, sehingga ia begitu senangnya berputar-putar di kepala saya yang sudah ditumbuhi selembar uban.

Read the rest of this entry

Antara Makanya Dan Mangkanya, I Dunno

Antara Makanya Dan Mangkanya, I Dunno

designdoorsMenulis, adalah salah satu bagian tersulit dalam hidup ini ketika kamu harus memperhatikan eja-an yang benar, penggunaan tanda baca, bahkan berpedoman pada KBBI (yang ini emang harus XD ) —menulis bukan hanya ketika kamu menciptakan sebuah cerpen atau novel saja. Nge-SMS, nge-WA, BBM-an atau komentar gak penting di laman orang pun bagian dari menulis—.

Walaupun sulit, sebenarnya hal-hal itulah yang dapat membuat tulisanmu enak dibaca, mudah dimengerti, bahkan menjadikan sebuah tulisan menjadi layak untuk dijual. Ibarat nyetir, kita ada di jalan tol. Enak kan, jalannya lempeng tanpa ada lubang. Nah begitu juga dengan tulisan yang baik dan benar.

Read the rest of this entry

#Bombema – Bom Benang Makassar

#Bombema – Bom Benang Makassar

Catalog of Yarn Bombing Makassar 2014Kemarin adalah hari perdana pemutaran dokumenter Bom Benang 2014. Bom Benang 2014 merupakan event tahunan yang digelar oleh Komunitas Perajut Makassar, Quiqui. Dan mengambil tema Benang di Halaman, mengajak kita untuk sedikit mengenang kembali hangatnya sebuah halaman.

Melibatkan masyarakat luas utamanya mereka yang terkasih, para tetangga untuk turut serta melilit benang dan meminta kesediannya menjadikan halaman serta pagar-pagar mereka menjadi bagian dari galeri. Yang mana proses ini merupakan bagian dari pra event festival Bom Benang 2014. Bukankah mengambil sedikit perhatian dari lingkungan terdekat adalah awal dari sebuah perubahan yang besar?. Ciyee…

•••

Saya mengenal komunitas ini (lagi-lagi) dari kak Nanie. Hari itu, beberapa tahun yang lalu, kak Nanie memang sempat mengajak saya untuk ikut kelas merajut yang katanya digagas oleh Eka –salah seorang crafter Makassar dengan Camane Craft sebagai branding produknya-. Tapi sepertinya saya belum memiliki waktu yang tepat untuk bergabung dalam kelas-kelas merajut tersebut. Hingga mereka menggelar sebuah acara melilit benang, membalut sebuah pohon besar. Sebenarnya saya sempat menemani kak Nanie untuk mengambil jatah benang untuk keikutsertaanya pada event tersebut. Tapi saya belum berani menawarkan diri untuk membantu. Padahal dalam hati, ingin sekali menjadi bagian dalam membalut sebuah pohon. Itulah ya, kenapa berterus terang selalu lebih berharga daripada diam-diam menahan rindu… pppfft.

Sejak saat itu, ketertarikan saya dalam seni kriya khususnya dunia benang dan kait mengait ini terus berlanjut, mengalir seperti air, merona seperti senja bahkan tabah – setabah hujan bulan Juni XD. Dan saya pun mulai membeli jarum dengan ukuran yang benar sebagai bagian dari standar kelayakan mutu rajutan (hallah !). Lalu menumpuk benang-benang cantik sebagai bagian dari penyakit naga –yang katanya suka mengumpulkan harta karun-. Hingga membuka kelas sederhana untuk mengambil hati para tetangga dan berbicara dari hati ke hati tentang betapa terganggunya saya dengan tumpukan sampah di tanah kosong samping rumah yang mereka buang tanpa rasa malu dan bersalah.

Lalu akhirnya saya berhasil menjadi bagian dalam event Bom Benang Makassar 2013 di Taman Segitiga Makassar. Luar biasa rasanya bisa ikut serta memamerkan karya, Mejik! (maklum, sedikit banyak saya memang tukang pamer soalnya :|). Dan di tahun berikutnya Bom Benang Makassar 2014 – Benang di Halaman memberikan kami ruang sebebas-bebasnya untuk berekspresi.

Hingga suatu pagi, saya ngantor tanpa mandi karena air yang tidak mengalir – suram! . Saya benar-benar kesal hari itu, yang kemudian membuahkan ide untuk mengangkat masalah krisis air ini menjadi karya yang akan saya ikutkan dalam Bom Benang 2014 (belakang diketahui, ketika saya kesal akan banyak ide yang bermunculan! XD #Ngek)

Maka jadilah sebuah ember berbungkus rajutan dengan warna dasar coklat yang terinspirasi dari tanah –air tanah ceritanya- hingga warna pola dari perusahaan air bersih yang ada di negeri ini XD (hahahah sok banget XD ). Tak hanya ember, saya juga menyertakan selang yang dibungkus rajutan, keran air, dan aliran air. Sayangnya, saya kurang tanggap ketika mendapati karya saya ini hanya diletakkan begitu saja seperti tidak berguna di salah satu sudut ruang pamer hari itu. Saya pikir memang didisplay seperti itu, ternyata tidak XD. Jadilah siang itu saya menempelkan seadanya karya saya yang luar biasa itu pada sebatang bambu. Sepertinya saya memang tidak berbakat jadi seniman hahaha… =)))).

Lalu hari ini saya mendapatkan kejutan yang luar biasa. Seseorang diluar sana mengagumi karya saya dan menuliskannya dalam sebuah blog, bisa dilihat di sini. Saya pun kembali bersemangat dan merasa berhasil menjadi seorang seniman. Terima kasih…

Sampai ketemu di Bom Benang tahun ini. Silakan dinikmati dokumenter Bom Benang Makassar 2014.

Karya : Yunita Maretha

Pergilah ke Pasar, Unga!

Pergilah ke Pasar, Unga!
pic : braddasista

pic : braddasista

Kamu tahu tidak Unga?, sebagian besar penghasilan masyarakat ada di Pasar Tradisional!
Hari itu kamu menghabiskan uangmu satu juta delapan ratus ribu rupiah untuk belanja bulanan di sebuah pasar modern. Pasar yang dengan angkuhnya akan merampas hidup orang-orang yang berjibaku dalam kehidupan pasar tradisional, tempat mereka menggantungkan hidupnya.
Pasar yang akan mematikan salah satu sendi perekonomian sebuah kota. Pasar yang akan menggerus memori indah tentang kehidupan yang semestinya. Ya!, walaupun memang benar hidup ini harus berubah.

Saya akui, saya adalah bagian kecil dari kesombongan itu. Saya juga sadar secara tidak langsung berperan mematikan pertumbuhan ekonomi pasar tradisional. Bagaimana tidak, saya memang akan selalu memilih belanja di pasar modern. Walaupun hanya untuk membeli garam dan sekatung bawang putih. Pilihan sejuk, nyaman, terang dan bersihlah yang membuat saya menghadapi kenyataan ini. Mau bilang apa? Itu kenyataan!. Mau lari dari kenyataan…? Sudah gak jaman!.
Hal ini saya lakukan terus menerus sejak saya menjadi emak-emak dan terjun langsung dalam kerasnya hidup ini.
Read the rest of this entry

Taloba Si Cantik Nan Legit

Taloba Si Cantik Nan Legit
@LeGuiltyPleasur

Le Guilty Pleasure

Seorang putri, apalagi permaisuri tidak-lah tepat berada dekat dengan kompor dan alat masak kala itu. Ada banyak dayang yang bisa diandalkan untuk segala keperluan rumah tangga dan masak-memasak. Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu ke-dua.

Penganan yang satu ini muncul sekitar tahun 1930-an. Tahukah anda, Kue cantik nan-legit ini diciptakan oleh permaisuri Raja Bone ke-32, Mane’ne Karengta Ballasari.
Kue yang keluarnya hanya pada event-event tertentu di  Soraja  ini amat sangat dinanti keluarga dan kerabaat raja, seperti pada saat hari raya Lebaran.

Pada masanya, pengolahan kue ini betul-betul dalam pengawasan penciptanya. Dimulai dari pemilihan kuning telur bebek terbaik, penyaringan isi kuning telur dari selaputnya, jenis mentega yang digunakan, hingga pemilihan buah kenari yang kualitasnya sudah pasti terjamin.
Lalu tersebarlah resep kue ini, dan yang paling bertanggung jawab dengan tersebarnya resep kue ini adalah para dayang istana :D.

Read the rest of this entry

Tabaria, Selatan Makassar

Tabaria, Selatan Makassar
googlemaps

dalam garis merah – daerah tabaria berdasarkan perkiraan (saya)

Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu pertama – Sekitar rumahmu.

Tabaria, adalah daerah yang tidak pernah terpikirkan oleh saya saat masih duduk di bangku sekolah sampe jaman kuliahan, pertengahan jaman ngantor sekalipun. Ketika orang menyebutkan daerah itu, yang ada di benak saya adalah sebuah perkampungan barbar yang penuh dengan penjahat =D.

Namun keadaan memang tidak bisa diprediksi.
Sebuah rumah mungil yang indah tengah disediakan ALLAH untuk saya melalui seorang lelaki bugis yang meminang saya di bulan Maret dan menikahi saya dibulan Juni 2009. Awesome !!
Maka dimulailah hari-hari saya sebagai ibu-ibu kompleks perumahan di bagian selatan kota Makassar.

Ada banyak akses jalan ke perumahan Tabaria. Ada dua opsi yang saya tawarkan untuk anda. Pertama, anda bisa melalui jalan Daeng Tata Raya, lalu menyusur jalan Daeng tata 1. Melalui akses jalan ini, besar kemungkinan anda mudah mencapai perumahan tersebut. Sama halnya jika melalui jalan Sultan Alauddin, kemudian menyusur jalan Manuruki maka akan banyak jalanan rusak yang anda temui dan kemungkinannya besar anda akan nyasar dengan melewati jalan tersebut :D. Jadi saran saya, bawa sertalah teman atau kerabat yang paham betul situasi daerah Tabaria bila anda mengambil opsi kedua. Atau tentu saja anda bisa menggunakan GPS ( Gunakan Penduduk sekitar ) :D.

Read the rest of this entry