Dear Sonya Depari

Dear Sonya Depari

a

Dear Sonya,

Sepertinya kamu cukup terkenal akhir-akhir ini, banyak yang membicarakanmu. Ya, mereka membuka obrolan di ruang-ruang yang mungkin tidak kamu ketahui, membicarakan tentang bagaimana tingkah-polahmu ketika berusaha berdamai dengan jiwa mudamu yang tengah meluap dan meletup-letup dengan bahagianya. Ya, mereka membicarakan bagaimana dengan bangganya kamu mengaku sebagai anak dari seorang petinggi saat di hadapkan pada sebuah konflik, -mobil yang kamu kendarai bersama teman-temanmu selepas Ujian Nasional di hentikan oleh petugas karena kelebihan muatan- berharap dengan begitu semua akan beres.

Sungguh, kisahmu itu cukup membuat saya berpikir lama dan panjang, bahkan saya berusaha mengingat-ingat kata sandi blog saya demi untuk menjadikan surat ini dapat dibaca oleh dua anak perempuan saya yang juga akan tumbuh secantik kamu.

Mungkin hal itu menyisakan trauma yang besar padamu saat ini. Terlebih apresiasi media dan masyarakat yang merisakmu cukup tajam, kemudian kamu pun harus kehilangan orang yang kamu sayangi karenanya. Terlepas bahwa semua yang bernyawa pasti akan mati dan umur tidak akan lebih atau berkurang sedetik pun, ini menjadi pelajaran besar buat saya pribadi.

Karena hal Itu juga membuat saya kesal, membuat saya mual dan pusing ketika harus memikirkannya. Atau bahkan terlibat langsung dalam kejadian itu, dan menjadi orang yang ditandai mukanya!.

Jalan hidup kita berbeda, kamu terlahir sebagai anak yang memiliki sangkut-paut keluarga petinggi, sedang saya adalah sebalikannya. Saya tidak punya cukup keluarga yang bisa saya catut namanya untuk menyelesaikan masalah. Kalaupun ada, saya tidak pernah menggunakannya untuk meloloskan diri dari satu masalah atau kekhawatiran tertinggi mereka tidak mau mengakui saya XD. Tapi tahukah kamu?, saya belajar untuk bisa mengatasi masalah sendiri apapun resikonya, bahkan jauh sebelum saya dapat mencoret-coret baju putih abu-abu saya.

Tapi sudahlah, kita tidak usah saling menyalahkan, baiknya kita saling memaafkan dan berharap semuanya akan baik-baik saja. Bukankah akan selalu ada bintang walau langit tertutup awan? Dan bukankah akan ada pelangi selepas hujan?. Sebab sedikit banyak mungkin memang lingkunganlah mengajarkan-mu demikian. Lingkungan yang terlalu sibuk dengan kesombongannya masing-masing, lingkungan yang membuat kita lupa tentang apa itu aturan, lingkungan yang membuat kita lalai lalu terjebak dalam ego, lingkungan yang lupa bahwa hubungan itu tidak hanya satu arah, vertikal. Tapi ada hubungan horisontal yang lebih mengikat dan akan terpelihara dengan menjaga ahlak.

Sungguh amat tidak bijak dan tidak adil jika saat ini saya berusaha menilaimu begitu saja. Jagalah dirimu baik-baik, jadilah pribadi yang menyenangkan, rendah hati dan berjiwa besarlah selalu. Bukan tidak mungkin, kelak kamu akan mengajarkan pada anak-anakku tentang bagaimana saling menghargai dan bertanggung jawab dengan ahlak yang mulia.

Dear Sonya, seuntai doa terkirim dengan tulus untukmu siang ini.

2 Responses