Memilih Untuk Bahagia!

Memilih Untuk Bahagia!

octobreast

Saya bersama Lovepink dan Garda Medika mendukung gerakan peduli kanker payudara

Tiga tahun yang lalu, untuk pertama kalinya saya melihat ayah saya penuh dengan kepura-puraan selama hidupnya, ekspresinya berubah-ubah hampir disetiap kata yang berusaha ia sampaikan, saat itu. Saya hanya menatapnya lekat, berusaha mengatupkan rahang rapat-rapat dengan keadaan dan kondisi sangat emosional.

Hari ini, hal itu saya lakukan kembali. Saat menyimak adegan demi adegan drama dan berusaha menangkap pesan yang ingin disampaikan oleh Pinky Promise, sebuah film garapan PM Pro Pictures, diperankan oleh; Agni Pratistha sebagai Tika, Alexandra Gottardo Sebagai Beby, Chelsea Islan sebagai Chelsea, Dhea Ananda sebagai Vina, Dhea Seto sebagai Ken, serta beberapa pemain berkarakter lainnya, yang mana bercerita tentang perjuangan teman-teman menghadapi kanker payudara. Saya perlu berkali-kali mengambil nafas panjang, bertahan untuk tidak menangis. Sementara teman di samping kanan kiri saya sudah berkali-kali menyeka air matanya. Dan saya yakin, saya adalah orang yang tegar, tidak perlu ada tangisan apalagi hanya untuk sebuah film. Sayangnya, ketegaran saya runtuh disalah satu scane saat proses kemo berlangsung dan terjadi dialog antara tante Anind dan Emak; “ Siapa yang bisa benar-benar siap ditinggalkan …”. Begitu kata Emak.

Akhirnya kesombongan saya tentang ketegaran hidup hilang terbawa air mata yang mengalir deras. Saya tidak lagi peduli dengan eye liner yang akan belepotan, atau mata yang berakhir merah dan sembab. Bagaimana tidak, orang-orang yang saya kasihi meninggalkan cerita yang nyaris sama persis dalam film berdurasi lebih kurang 114 menit ini. Dan sejak kehilangan-kehilangan itu saya bertekad untuk tidak menangis, sebab semua yang hidup pasti akan mati.

Film di depan sana terus berjalan, sementara pikiran saya sudah kemana-mana. Dimana satu hari saya mengingat ibu pernah berkata, jika diijinkan, dia ingin menanggung sakit yang diderita oleh kakaknya, atau menggantikannya atau melakukan apa saja untuk mengurangi rasa sakit dan kelelahan yang dialami kakaknya. Dan sejak saat itu, tidak sedikit saya mendapati ibu termenung cukup lama dengan tatapan kosong lalu memutuskan untuk sekali lagi kembali mengunjungi kakaknya, atau sekali lagi meminta saya untuk menemaninya menjenguknya. “ Sekali lagi “ yang dapat saya pahami sebagai bentuk kecemasannya yang begitu besar. Ya, tante saya mengidap kanker payudara, entah berapa lama ia berjuang untuk orang-orang yang dicintainya. Dan entah berapa lama kami juga berusaha terlihat bahagia. Sependek yang saya rasakan itu sangat lama …

Tante saya itu terlihat santai menjalani hidupnya, menikmati kudapan-kudapan kecil dengan bahagia atau bersemangat untuk pergi berlibur dan apel pagi di kantornya. Tetapi tidak untuk kami; anaknya, saudarinya, suaminya, ibunya, bahkan ponakan dan sahabat-sahabatnya. Tidak sekali dua kali kami ada dalam tangisan masing-masing memikirkannya. Kami lupa, kalau mungkin saja ini akan menyakitinya.

Your opinion is not my reality “ itu tulis teman saya, Riannie, dalam satu akun media sosialnya, mungkin itu pula yang ingin tante saya katakan.

Tentu masing-masing kita akan berjuang dengan cara kita sendiri, begitu juga dalam film ini; begitu dengan tante Anind yang membuka rumah peduli bagi penderita kanker payudara, begitu dengan Ken yang berusaha berdamai dengan diri dan keluarganya, begitu dengan Vina yang inginnya mengalah dengan keadaan untuk anak-anaknya, atau begitu dengan Beby yang berbesar hati dengan romantika kehidupannya, atau begitu banyak kisah yang teman-teman hadapi dan saya tidak mengetahuinya.

Dengan demikian, film dengan nuansa pink ini dalam sekejab merubah pandangan saya tentang warna pink yang identik dengan sesuatu yang unyu-unyu, centil dan membuat saya jengkel. Atau mengubah pandangan saya kalau hampir semua film-film indonesia yang kekinian itu tidak untuk dinikmati, tapi ditertawakan.

Nonton bareng ini menjadi amat menyenangkan dan berarti untuk saya, walaupun memang saya akui, ini adalah nonton bareng terlama yang pernah saya ikuti. Sebab, tidak hanya duduk nonton dan jumpa pemainnya saja, ternyata ada test kesehatan gratisnya juga loh!. Jadi setelah diarahkan untuk registrasi kamu dipersilakan untuk mengisi kartu doorprizes. Setelah itu dikasih kupon untuk periksa kesehatan dan snack. Nah, sambil menunggu tamu yang lainnya kamu bisa photo-photo di area photobooth yang telah disediakan. Setelah sedikit menunggu dengan kepiluan karena belum sarapan … Hallah! XD. Acara pun dibuka dengan sambutan dari pihak Asuransi Astra dan sesi yang mengedukasi oleh dr. Dody Permadi dengan materi bagaimana mengenali gejala-gejala kanker payudara secara mandiri – SADARI ( Periksa Payudara Sendiri) -, lalu apa yang harus dilakukan jika terdiagnosa, apa yang harus dipersiapkan, kemana kita seharusnya berkonsultasi dan bagaimana men-support mereka yang terdiagnosa kanker payudara.

editmedcare

Tak hanya itu sebuah aplikasi keren Garda Mobile – MedCare juga diperkenalkan dalam acara ini, aplikasi dari Asuransi Astra yang dapat kamu unduh di Google Play atau App Store. Aplikasi ini dapat digunakan oleh siapa saja, tidak terbatas pada teman-teman yang memiliki polis asuransi Astra atau member. Sebab banyak tools yang dapat kamu gunakan untuk memudahkanmu dalam menjalani hidup sehat, misalnya; opsi Reminder, Wellness, Daily Activity, Symtoms, Medical Control, Medication, Call Garda Akses, Inbox dan Garda Medika, juga artikel-artikel kesehatan yang menarik untuk kamu simak, jadi tunggu apalagi, silakan download aplikasinya sekarang juga!.

Dan sebelum film benar-benar dimulai, acara ditutup oleh Talkshow dari teman-teman Love Pink; Ada Kak Tuti dan Kak Mutia sebagai suvivor kanker payudara yang sangat interaktif dan menginspirasi.   Mereka tak segan berbagi cerita hidup, bagaimana memotivasi diri sendiri dan orang lain juga untuk hidup sekali lagi.

Hal yang tidak pernah saya bagi kepada ibu saya, ketika dia mulai mengenang kakaknya dengan mata yang berkaca-kaca, dengan cerita-ceritanya yang begitu bersemangat, dengan senyumnya yang begitu indah, dengan tubuhnya yang wangi, serta dengan doa-doanya yang tidak pernah putus untuk sang kakak yang telah meninggalkannya dan untuk harapannya agar selalu bahagia.

Sementara dia tidak pernah tahu, dan tidak akan pernah tahu jika sore itu, sepulangnya check up, kami membicarakannya dengan emosi yang berusaha kami redam bersama. Saat dimana ayah saya memulai kepura-pura-annya untuk tegar dihadapan keempat orang anaknya. Ya, dengan ekspresinya berubah-ubah hampir disetiap kata yang berusaha ia sampaikan!. Bahwa dokter mendiagnosa ibu saya kanker payudara stadium lanjut, metastasis liver, tidak hanya asam urat yang selama ini dikeluhkannya.

Begitulah, waktu, ia tidak akan bertambah sedikitpun atau berkurang sedikitpun. 16 pekan adalah rentang yang Allah sisakan untuk kami sejak sore itu. Lebih cepat 8 pekan dari yang dokter perkirakan.

… “ Siapa yang bisa benar-benar siap ditinggalkan …”.

Sekarang, saya belajar untuk tidak menjadi egois!. Besok saya akan mulai melakukan pemeriksaan rutin kembali. Dan sudah tahu harus mempersiapkannya dari mana baik dari segi finansial maupun nonfinansial. Karena saya memilih untuk bahagia lebih cepat.

Betul-lah kata orang-orang itu, terkadang kita tidak melulu harus melihat sesuatu dari sudut pandang kita sendiri. Sebab ketika kita mulai memahami orang lain, disitu pula kita akan mudah mengerti. Sebuah warna tidak mesti dibenci, sebab pita berwarna pink harus kamu ingat sebagai motivasi dan penyemangat untuk terus berjuang melawan kanker payudara. Juga perjuangan yang dipersembahkan dengan cantik oleh teman-teman dari Yayasan Daya Dara Indonesia atau lebih dikenal dengan Love Pinksebuah gerakan sosial untuk mendampingi perjuangan wanita-wanita yang terdiagnosa kanker payudara-.

Ohya satu lagi, terlalu banyak orang botak dalam film ini, itu membuat perasaan saya tidak enak.

lovepink

foto: google

8 Responses

  1. Beberapa hari yang lalu saya nonton filmnya. Dengan sok tegarnya sy menahan air mata yg akan tumpah. Tp ternyata, sy ndak bisa akting. Mataku berkaca-kaca.
    Alhamdulillah, sejak sebulan lalu saya memutuskan utk ikut asuransi kanker. Sy memilih bahagia :’)