Ilmu untuk menjadi seorang emak memang nggak ada habisnya, akan selalu berkembang sesuai dengan perkembangan dari jaman ke jaman… Jangan sampai ajah anak sudah sampai ke bulan mainnya, kita masih ajah ngobatin kolik anak pake bawang merah yang dipenitiin di baju, alih-alih bros, jatohnya malah jadi jimat! Atau anak udah mainan roblocks, kitanya gak ngerti itu apaan… XD
Dunia parenting memang harus menyita banyak perhatian kita sebagai orang tua, begitupun bagi saya, bukan cuma diterapkan dalam keseharian tapi juga untuk dibagi pada para pendamping di Daycare yang telah saya kelola 6 tahun terakhir ini. Tentang bagaimana kita menyiapkan makanan sehat, stimulasi yang benar juga menciptakan suasana yang menyenangkan dalam masa tumbuh kembang anak, tentu saja agar mereka tumbuh optimal. Ternyata resepnya sangat sederhana, yaitu emaknya harus bahagia dulu! Ini benar adanya, bennner banget.
Kalau emaknya ajah udah gak beres, gimana caranya mau beresin orang lain apalagi anak yang butuh dampingan khusus dan asupan makanan bergizi juga energi serta emosi yang positif. PR cukup besar buat emak…
Seperti emak yang menunjukan komitmennya dalam mendukung tumbuh kembang optimal anak, Nestle LACTOGROW juga kembali menunjukan komitmennya untuk anak-anak Indonesia dengan menggelar workshop“Grow Happy Parenting”. Bersama para pakar Nestle LACTOGROW berbagi ilmu untuk membantu para orang tua dalam memenuhi kebutuhan gizi dan mengembangkan kematangan emosi anak. Mulai dari pendekatan psikologis hingga cara menjaga saluran cerna, agar orang tua dapat mendukung anak tumbuh bahagia.
Biasanya, sajian yang paling saya incar saat ada hajatan di mana pun itu adalah penganan dengan olahan pisang. Gak tahu rasanya kearifan lokal seketika muncul jika berhadapan dengan mereka -hihi-, dengan sigap saya bakal duduk di depan piring sajian yang berisi kue-kue yang ada pisangnya, apalagi dalam hajatan Bugis-Makassar penganan berbahan dasar pisang pasti tidak pernah ketinggalan.
Begitupun akhir Ramadhan kemarin ketika mengisi ngobrol santai tentang internet sehat yang digelar oleh Komunitas Blogger Makassar, di Mall Phinisi Point Makassar, sekaligus buka puasa dan anjangsana dengan adik-adik panti asuhan. Acara berlangsung meriah karena kehadiran adik-adik panti dengan antusias mereka melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang lucu-lucu saat sesi tanya-jawab-.
_Saya dioleh-olehin bwonis pisangnya Browcyl! Yaampun senangnya selain juga emang brownis yang satu ini jadi kesukaan karena manisnya pas di lidah saya, layer pisang yang ada di dalamnya juga menambah nilai dari rasa brownis ini, teman yang asyik untuk menghabiskan sore bersama secangkir teh hangat.
2011 lalu saya termasuk yang paling semangat menyisipkan tagar “Save Somba Opu” pada kicauan di twitter sebagai wujud protes kepada pemerintah provinsi karena dikeluarkannya ijin membangun pusat rekreasi di kawasan Benteng Somba Opu hingga nyaris menyenggol dinding Benteng Somba Opu. What a beautiful life! Se-receh-recehnya saya, se-jelata-jelatanya saya, saya masih punya cinta yang begitu besar, harga diri untuk menghargai situs-situs sejarah dibanding mereka yang memiliki amanah lebih besar untuk hal-hal demikian. Sama ketika santer kabar bahwa disinyalir pemerintah kabupaten Gowa berusaha mengobrak-abrik harta karun milik kerajaan Gowa, membobol brangkas penyimpanan benda pusakanya untuk meluluskan pelantikan bupatinya yang ingin jadi raja. Lucu? Gak lucu! Gak mungkin coppeng bisa berubah jadi anggur walau diletakkan pada piring emas sekali-pun. Percayalah harga tidak akan pernah mengkhinati kualitas dan kualitas tidak akan membohongi rasa. *hallah! –kecuali kamu ditipu-.
***
Wangi kental hio –dupa khas Cina- tercium begitu saya membuka jendela mobil, pekat hingga membuat keryitan pada alis. Dua hari ini, 13 hingga 14 April 2018 saya memang menghabiskan waktu begitu banyak di sebuah hotel yang terletak di jalan Sumba, jalan yang sebelahan dengan jalan Irian, sebuah jalan yang menjadi batas kota Makassar pada akhir abad ke-18, tepatnya Makassar bagian barat saat ini, Hotel Dynasti Makassar.
Dulu, seputaran jalan Yosef Latumahina, jalan Durian, jalan
Manggis hingga jalan Lamadukelleng adalah tempat saya menghabiskan masa kecil.
Pohon-pohon besar dengan bayangan hampir menutup semua badan jalan membuat
suasana nyaman sekalipun siang begitu terik. Biasanya kami –saya dan adik-
mengumpulkan buah kayu sambil bersepeda sepulang sekolah. Sayangnya saat ini
saya menetap di Makassar bagian selatan, hingga kenangan seperti itu hanya bisa
jadi kenang-kenangan saja ketika sesekali melintasi jalan-jalan ini atau mampir
makan di Resto di Makassar yang ada
di jalan ini.
Banyak yang sudah berubah dari tahun-ke-tahun, seperti jalan
Lamadukelleng yang tadinya hanya menjadi perumahan penduduk dengan tatanan yang
begitu rapih beserta halaman-halaman rumah yang luas, kini sepanjang jalan ini
berdiri tempat jajan; kedai es krim, cafe dan resto di Makasar. Salah satunya DB’s Corner tepatnya di jalan
Lamadukelleng No. 80. Tidak terdengar familiar, makanya saya penasaran juga,
karena seingat saya dulu di tempat ini adalah tempat penyewaan komik walau
bangunannya memang sudah menyerupai ruko -rumah toko. Maka janjianlah saya
untuk bertemu dengan beberapa orang teman di tempat ini.
Benar saja, di tempat saya berdiri saat itu saya tidak lagi menemukan bangunan yang dulu lekat dalam ingatan saya, bangunan setinggi pohon tanpa jendela bercat putih. Ternyata sekarang sudah berubah jadi sebuah resto 3 lantai dengan suasana yang berbeda tiap lantainya. Langsung menuju lantai 1 setelah melewati lobby saya menemukan ruangan yang sangat nyaman untuk tempat kumpul keluarga bersama deretan sofa-sofanya berbusa tebal dengan warna yang chic, rasanya ingin cepat-cepat duduk dan menenggelamkan tubuh di busa-busa empuk itu. Serta satu ruang sederhana yang tak kalah nyamannya untuk tempat sholat di sudut ruangan dengan mukena dan sajadah yang wangi. Kayaknya tempat ini bakalan jadi salah satu tempat favorit saya.
Gak menanti lama daftar menu langsung mendarat tepat di meja depan kami, buka-buka menu dan nanya-nanya menu yang jadi pilihan dari DB’s Corner malah berasa pengen diicip semua –Hahahaha. Akhirnya pilihan jatuh pada semangkuk Tom Yam dengan nasi putih buat makan siang. Sebenarnya sih ini karena ikutan Gadis –salah satu teman saya- yang duluan pesen Tom Yam lalu kemudian abis karena diicipin rame-rame.
Saking cozy-nya
tempat ini gak berasa banget hampir 3 jam lebih kami ngobrol, dari obrolan skin
care sampeobrolan khas emak-emak yang rempong sama anak dan menu buat
Ramadhan nanti. Ohya, ngomongin Ramadhan ternyata di DB’s Corner juga punya
paket spesial Ramadhan. Dari brosurnya yang saya baca ada promo All You Can Eat cukup membayar Rp.
100.000/pax, ini bisa kali yah buat
opsi kalian buka bersama atau menu nasi liwet yang beli 10 porsi dapat 11
porsi. Matap!.
Gak Cuma itu, sepertinya DB’s Corner emang siap banget untuk
kalian dan bulan Ramadhan nanti karena bakal ada Jajanan Ramadhan DB’s Corner
yang menyediakan aneka menu buka puasa di pelataran parkirnya dan tentu saja
dengan harga yang sangat terjangkau. Jadi dari pada kena macet, boleh banget
nih merapat ke sini, beibs… Terus
Ramadhan Paket Buffet juga da loh, yang tentunya menyediakan perasmanan dan
menu buka puasa juga. Buat yang doyan kopi jangan khawatir, ada Ngopikuy
Ramadhan, masih promo selama Ramdhan dimana kalian dapat menikmati kopi hitam,
kopi susu, cafe latte dan cappucino hanya dengan Rp. 15.000. Serbuuu…! Tapi
nunggu Ramadhan dulu yah, hehe.
Setelah puas nga-gosip, eh ngobrol yang namanya emak-emak emang rasa ingin tahunya begitu tinggi, mereka pada penasaran apa ajah yang ada di DB’s Corner, maka naiklah kami ke lantai 2 dan 3 dari DB’s Corner ini, untung ajah gak diomelin sama mbak-mbak dan mas-masnya. Gak sampai di situ, mereka juga heboh poto-poto! Hasrat emang begitu besar dan godaan untuk diem gak poto-poto emang tak terbentung karena emang tempatnya asyik sih yah. XD
Gak percaya? Cuss diintip
ini lantai 2 DB’s Corner, area yang merupakan co-working space, boleh nongkrong
sambil ngerjain kerjaan, tugas atau mau buat workshop sambil bobo siang (kalo
gak malu) juga boleh mulai Rp. 75.000/pax udah dapet meals yang menenangkan
hati dan jiwa. Konsep ruangannya juga didesain dengan warna-warna hangat hingga
membuat betah duduk berlama-lama.
Abis ngacak-ngacak lantai 2, segerombolan emak-emak tadi mutusin gak langsung pulang dulu, tapi naik lagi ke lantai 3 –semoga kehilafan kami dimaafkan oleh mbak dan mas DB’s Corner, Aamiin-. Di lantai ini pas kami rusuh keluar lift seluruh mata yang ada di ruangan itu menatap lekat penuh curiga, tapi teratasi dengan senyum manis yang kami lempar. Sepertinya lantai 3 dari DB’s Corner ini diperuntukan sebagai tempat khusus menggelar event dengan kapasitas sekitar 100-150 orang. Area ini merupakan area terbuka dengan sajian live musik, selain itu juga memiliki ruang private pada mezzanine yang ada di lantai 3 dengan sofa dari dengan sampul kulit yang lembut.
Ternyata untuk sebuah kenangan jalan, Lamadukelleng masih dapat menjadi kenangan dan menciptakan kenangan bersama orang-orang terkasih dan tentu saja di mana lagi kalau bukan di DB’s Corner
Saya bukan orang yang terbuka untuk masalah pribadi, tapi mudah berinteraksi dengan siapa saja, kapan saja juga tidak sulit menerima hal-hal baru. Sebenarnya kalau ditanya sudah sampai mana saya mengenal diri saya sendiri? Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk menjawabnya. Tentu saja karena begitu kenalnya saya dengan diri saya sendiri. Maka tidak ada alasan untuk tidak ikut dalam Coaching Game, coaching di Makassar; Designing The UnlimitedYou yang dicoach langsung oleh ibu Fauziah Zulfitri dari Insight Indonesia.
Hujan cukup deras hari itu, membuat genangan di beberapa ruas jalan. Janjinya saya akan datang tidak lewat dari pukul sembilan lebih tiga puluh menit. Nyatanya tidak demikian, perkiraan waktu yang sudah cukup matang saya siapkan setelah mengantar si adek -anak bungsu saya- yang akan ujian semester disambut gembira oleh jalan banjir padat kendaraan hingga menyebabkan macet sepanjang ruas jalan Andi Tonro sampai jalan Ratulangi menuju Ibis Hotel Makassar di jalan Maipa. Pada akhinya saya telat 15 menit. Walaupun saya lebih menerima ini sebagai takdir dari menyalahkan genangan air, tapi inilah dinamika kehidupan di Makassar; hujan dikit – bechek – banjir – macet.
Padahal Makassar kini bukan lagi kota kecil yang hanya bercita-cita menjadi kota metropilitan, tapi Makassar sedang lucu-lucu pengen jadi kota dunia. Namun dengan genangan airnya selepas hujan turun tak perlulah susah-susah berjuang menuju kota dunia, Makassar sudah dapat menyaingi Venice kok, tak perlulah juga jauh-jauh untuk mencicipi kota yang dikelilingi air… Terlepas dari semua itu kota Anging Mammiri ini memang selalu membuat saya jatuh cinta dan gagal move on. Bahkan dapat berkenalan dengan satu lagi wanita hebat di kota Makassar ini, wanita pertama di Indonesia Timur yang telah menguasai 11 kompetensi sebagai Coach dan telah melalui proses panjang hingga mendapatkan gelar ACC – Associated Certified Coach, dari International Coach Federation, ibu Fauziyah Zulfitri, akrab disapa Coach Ochy adalah hal yang tidak dapat saya ungkapkan dengan kata-kata. Continue reading “Points Of You, Insight Indonesia”
Photo: Gadis MaharaniEmang gak ada yang kebetulan di dunia ini, soalnya beberapa bulan terakhir saya sedang menggeluti hobi baru berburu produk perawatan kulit ketika menerima undangan Gathering Safi White Expert. Awalnya saya gak ngerti kalau Safi adalah salah satu brand produk perawatan untuk kulit –wajah-, kirain mahbrand fashion atau butik atau e-commecefashion muslim yang buka toko offline gitu, makanya waktu ada kabar acara ini saya iya-in ajah. Memang sih, akhir-akhir ini saya mulai sadar jika kulit wajah udah gak se-oke dulu, rasanya kering hingga menimbulkan rasa gatal. Sudah waktunya butuh dukungan perawatan lebih serta banyak doa agar tetep sehat, tidak kering dan gatal serta nyaman dipandang -hallah-.
Safi Skincare sendiri merupakan salah satu produk perawatan kulit yang dikembangkan oleh Safi Research Institute, Malaysia, Institut Halal pertama di dunia yang memproduksi produknya dari bahan-bahan alami terbaik serta diproses dengan cermat juga terbukti secara klinis dapat membantu memperbaiki serta mempertahankan kebaikan kulit wajah; Non Animal Testing, mengembangkan produk dengan tidak menggunakan bahan-bahan dasar hewani; Eco Friendly, hemat energi dan green packaging(Zero PVC) disetiap produk dan kemasannya, mengurangi limbah hingga 50% di tahun 2017, mengurangi penggunaan air; Vegan, sesuai dengan Asean Cosmetic Directive serta legislasi Uni Eropa, menciptakan produk aman untuk konsumen.
Maka bahagia rasanya dapat hadir dan menjadi bagian dalam acara Gathering Safi Skincare bersama teman-teman beauty-gram dan teman-teman blogger Makassar-AngingMammiri, jumat 18 Januari 2019, lantai 7 Melia Hotel, jalan Andi Mappanyukki Makassar. Yah walaupun saya gak beauty-beauty amat tapi saya yakin ini kesempatan untuk tahu lebih banyak tentang Safi dan apakah cocok dengan saya hingga bisa direkomendasikan ke orang lain karena halal, natural dan teruji.
Di hari yang menyenangkan itu Safi menghadirkan ibu Susi selaku Marketing Manager Safi Indonesia, ibu Nindita Ayu Ariendya selaku Senior Brand Executive Safi serta mbak Vindy dari @IniVindy seorang beauty influencer yang sering banget saya tongkrongin channel Youtube-nya. Hingga gak sadar kalau saya jadi ngefans hingga menyembunyikan hiteris dalam hati begitu ngeliat mbak Vindy memasuki ruangan. Monmaap, saya emang jaim. Hihi…
Jika disuruh memilih, saya suka tempat makan yang bersih, terang dengan pelayanan yang ramah juga menu yang enak, mau warung apa resto pokoknya standard kenyamanan adalah yang pertama, hihi… Bukankah segalanya akan berjalan dengan baik dengan adanya kenyamanan satu sama lain? *Hallah
Tau nggak sih, kmaren itu tanggal 2 desember ada satu lagi resto yang menambah daftar restaurant jepang di Makassar, dan saya makan siang di situ loh, tepatnya di jalan Tupai nomor 36, Asokanori Resto namanya. Sebenernya Asokanori Resto ini tuh bukanya besokannya gitu, opening tanggal 3 desember, tapi gak papalah yah kita curi starticip-icip hehe…
Siang itu suami ngater saya, kami sempat salah jalan karena beratnya hidup ini, eh, salah, karena memang gak begitu ngerti daerah seputar jalan Tupai ini. Jadilah akhirnya kami menyusur sepanjang jalan Tupai dari Ujung ke ujung, ternyata Asokanori terletak di sebelah utara dari jalan Tupai, setelah sebelumnya saya sempet nge-gas kalau tempat ini adanya di selatan jalan – udah salah, ngotot pula, jangan ditiru tidak baik untuk hubungan kalian, XD-
Akhirnya saya diturunin dengan sebuah lagu, doa dan tawa kemenangan dari bapak suami. Gerah juga apalagi udara emang agak terik siang itu, keluar dari mobil saya berasa kayak di sorot lampu sorot gitu harus harus memicingkan mata agar dapat melihat segalanya dengan jelas, tadinya saya hanpir dadah-dadahin setiap orang yang saya temui begitu keluar dari mobil sampai pintu masuk, halu berasa jadi artis, untungnya enggak! Nggak enak ketauan agak gila di tempat umum.
Berasa gak sih kalau ibu sedang bad mood suasana rumah aura-auranya jadi gak nyaman? Tapi kalau ibu bahagia, seisi rumah bakalan jadi menyenangkan, mau ngapain ajah bawaannya pasti enjoy. Dulu saya paling gak suka kalau ibu saya lagi bad mood, sebab semua orang yang ada di rumah bakalan ketularan juga jadi tidak menyenangkan, mereka semua jadi super nyebelin! Dan tentu saja kami tidak bahagia, untungnya keadaan seperti itu bisa segera diatasi ibu dengan memperpendek durasi bad mood-nya, hihi. Ternyata benar kata orang-orang, sebelum membahagiakan orang lain kitanya harus bahagia dulu, sebelum menuntut orang untuk positif, kita mesti positif terlebih dahulu. Maka untuk menjadikan anak tumbuh bahagia, kita sebagai orang tua apalagi ibu harus bahagia dulu…
Itu dia kenapa saya sebisa mungkin menjaga mood agar orang-orang yang ada di sekeliling saya gak ikutan bad mood juga. Sebenernya sih menjadi orang tua di era milenial ini, masa dimana kita dituntut untuk lebih dinamis dan modern tantangannya itu jauh lebih sulit, apalagi kalau gak pinter-pinter, bisa kalah pinter dari anak dan jatohnya kita jadi keki sendiri. Gak mau kan yah, jaaadi begitu!? Saya sih gak mau hihi …
Saya sudah berkeluarga, pernikahan kami memasuki usianya yang ke-9. Dari pernikahan ini saya belajar banyak hal; lebih banyak belajar kompromi dan mengerti dengan perbedaan yang ada sih tepatnya; belajar memahami orang lain yang tiba-tiba muncul dalam kehidupan saya; belajar menerima suami saya yang hobi benget belanja sabun cuci baju berhadiah piring cantik sedang saya lebih suka detergen dengan label anti kuman; belajar menerima kalau odol yang kami gunakan bentuknya harus rapi, sementara saya kalau mencet odol suka asal ajah; belajar untuk gak pilih-pilih makanan, apalagi tempat makan… Pokoknya semua pelajaran yang gak saya dapati ketika masih sendiri.
Begitulah sebuah pernikahan, awal dari cerita hidup yang baru, semua yang tadinya milik sendiri akhirnya mau gak mau apa-apa jadi milik berdua; sedih, kecewa, bahagia, senang, . Apalagi kalau kalian dapetnya tipe pasangan yang kepo. Bukan, bukan seperti suami saya, tapi yang kepo di sini adalah saya atau rese tepatnya. Saya sering melakukan hal-hal yang ngeselin, misalnya masukin aplikasi macem-macem ke ponsel suami supaya ponsel saya gak nge-hang atau pakai akun suami untuk belanja online dan tiba-tiba ajah dia ditelepon sama penjualnya untuk konfirmasi produk peluntur selulit atau masukin nomer ponsel suami ke group orang tua siswa, pokoknya semua hal yang dikhawatirkan bermasalah panjang akan saya sodorin ke suami, kan segalanya milik berdua, juga ke-rese-an pasangan… Jadi sebenernya disini siapa yang menzdolimi dan siapa yang terdzolimi sih?! XD. Pokoknya apa-apa milik dan tanggung jawab berdua lah judulnya, juga dalam hal yang sangat intim…
Hari gini, buka lini-masa media sosial itu bawannya bikin sepet mata dan hati, isinya tawuraaan mulu… Yang dibahas politik dan kawan-kawannya. Kamu yang selama ini gak ambil pusing sama masalah politik atau orang paling cuek sedunia sama masalah orang lain, pun akhirnya kesrimpet juga hatinya buat mengapresiasikan isi dari hati itu melalui ketikan tangan yang berakhir pada kolom status di facebook dengan narasi yang nyinyir. Duh, lelah hati adek bang… Gak pengen sebenernya seperti itu, tapi gimana lagi udah ke-publish.
Sebagai seorang yang aktif di dunia maya, image kita dapat secara nyata terbaca dari segala aktivitas dan konten yang kita bagikan. Ayolah, mari kita membuat segala hubungan pertemanan ini menjadi sesuatu yang positif dan menyenangkan. Hentikan menyebarkan konten negatif dan hoax yang dapat memicu hancurnya kebahagiaan bersama dan menimbulkan perpecahan di antara kita. Mulailah dari diri sendiri untuk selalu berpikir positif, redamlah hobi kalian menyebarkan ujaran kebencian; tindakan komunikasi yang dilakukan oleh suatu individu atau kelompok dalam bentuk provokasi, hasutan, ataupun hinaan kepada individu atau kelompok yang lain dalam hal berbagai aspek seperti ras, warna kulit, etnis, gender, cacat, kewarganegaraan, agama dan lain-lain. Plis jangan bawa-bawa agama karena selemah-lemahnya iman, saya gak kuat untuk menerima jika kalian nyenggol masalah yang satu itu…